Mutiara Salaf

"Wahai manusia Aku hanyalah orang yang mengikuti sunnah dan bukan pembuat bid'ah. Jika Aku berbuat baik maka ikutilah dan jika Aku berbuat buruk maka ingatkanlah" [Abu Bakar Ash-Shidiq]

Blog ini dibuat terutama sebagai catatan/arsip bagi ana sehingga mudah mengakses [karena telah dikategorikan] artikel para ustadz ahlu sunnah yang materinya terpencar-pencar di masing-masing situs yang diasuh langsung oleh mereka. Namun alangkah baiknya jika ana tidak menyimpannya sendiri di dalam hard disk melainkan di sebuah blog yang diharapkan dapat bermanfaat bagi orang lain entah dia itu muslim atau kafir, ahlu sunnah atau ahli bid'ah, orang yang sudah "ngaji" atau yang masih awam.

Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Mei 2010

DUA KENIKMATAN YANG SERING DILUPAKAN

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.
Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 16:18)

NIKMAT SEHAT
Di antara kenikmatan Alloh yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya. (HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 5918)

Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala.
Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.
Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah k ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Lihat: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm: 366)

DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU
Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepadaNya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepadaNya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (خ 5933)

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari, no: 5933)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain”. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no: 5933)
Kata “maghbuun” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau lemah fikiran.
Al-Jauhari rahimahullah: “Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadits ini. Karena sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan fikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji”. (Fathul Bari)
Ibnu Baththaal rahimahullah berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Barangsiapa melalaikan hal itu maka dia adalah orang yang tertipu”. (Fathul Bari)
Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.
Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi maka masa tua (pikun).
Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat”. (Fathul Bari)

Ath-Thayyibi rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (QS. 61:10) dan ayat-ayat berikutnya.

Berdasarkan itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan berdagang / kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. 34:13)
“Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat tersebut”. (Fathul Bari)
Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi t berkata: “Diperselisihkan tentang kenikmatan Allah yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan “keimanan”, ada yang mengatakan “kehidupan”, ada yang mengatakan “kesehatan”. Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya”. (Fathul Bari)
Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama kesempatan masih ada. Hanya Alloh Tempat memohon pertolongan.

http://ustadzmuslim.com/?p=70

Sabtu, 01 Mei 2010

MENYUCIKAN JIWA, MEMBERSIHKAN QALBU (2)

Cara-cara membersihkan jiwa dan qalbu

Dalam hal ini tidak ada cara-cara tertentu yang diperbolehkan selain cara-cara syari’at. Bahkan seluruh syari’at Islam, baik yang menyangkut masalah aqidah maupun masalah hukum, dari masalah yang paling besar hingga masalah paling kecil, semuanya berujung pada, ketakwaan, pembersihan jiwa dan peribadatan hanya kepada Allah semata.[1]

Penjelasannya adalah melalui contoh-contoh berikut:

1- Tauhid merupakan pembersihan jiwa.

Tauhid ialah meng-Esakan Allah dengan melakakukan peribadatan dan penyembahan hanya kepadaNya saja.[2] Segala peribadatan yang berbentuk permohonan, cinta, takut, tawakal, taat, malu dan lain-lain dari gerakan-gerakan hati, lidah maupun anggauta badan, hanya dipersembahkan kepada Allah saja, dengan mengikuti ketentuan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja.

Tauhid yang intinya adalah penyembahan hanya kepada Allah saja ini merupakan penyucian jiwa yang paling besar dan paling penting. Sebab, itulah tujuan pokok diciptakannya manusia dan jin. Orang yang bersih tauhidnya adalah orang yang bersih jiwa dan hatinya.

Lawan dari tauhid adalah syirik. Jika tauhid merupakan kebersihan jiwa yang paling besar, maka kemusyrikan merupakan kotoran jiwa yang paling besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسُُ التوبة: ٢٨

Sesungguhnya orang-orang musyrik adalah orang-orang yang najis. (QS. At-Taubah/9 : 28)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dan Imam asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud najis dalam ayat itu bukanlah najis dalam arti fisik. Tetapi najis jiwa dan agamanya.[3]

Dengan demikian, jika orang ingin melakukan proses pembersihan jiwa, maka hal pertama dan paling utama untuk dilakukan adalah membersihkan tauhidnya dari segala macam syirik. Misalnya tidak datang untuk meminta sesuatu kepada dukun atau orang ‘pintar’, tidak meminta-minta kepada kuburan orang shaleh dan tidak ngalap berkah ditempat-tempat keramat atau kuburan-kuburan yang diagungkan.

2- Wudhu’

Wudhu’ juga merupakan proses penyucian jiwa, di samping membersihkan fisik dari kotoran yang melekat pada anggauta fisik tertentu. Imam Nawawi rahimahullah, dalam Riyadhus Shalihin,[4] membawakan satu ayat tentang keutamaan wudhu’ ini, yang artinya:

Wahai orang-orang yang beriman! , Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu, dan basuhlah kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang suci; usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’matNya bagimu, agar kamu bersyukur. (Al-Ma’idah/5 : 6)

Beliau juga membawakan hadits-hadits yang menjelaskan bahwa barangsiapa berwudhu’ dengan benar dan baik, maka kotoran-kotoran jiwanya, berupa dosa dan kesalahan-kesalahannya akan lenyap. Di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ، خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ. رواه مسلم

Siapa yang berwudhu’, dan ia memperbagus wudhu’nya, maka akan keluar kesalahan-kesalahan dirinya dari jasadnya hingga keluar pula melalui bawah kuku-kukunya. HR. Muslim.[5]

Jadi, kegiatan ibadah wudhu’pun sebenarnya merupakan pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran dosa.

Demikian pula tayamum serta mandi besar, baik mandi junub, mandi jum’at maupun mandi hari raya. Tentu dengan syarat ikhlas dan diniatkan sebagai peribadatan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

3- Shalat

Shalat juga merupakan pembersihan serta penyucian jiwa. Karena shalat itu dapat menyingkirkan kotoran-kotoran yang berupa perbuatan keji dan munkar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ العنكبوت: ٤٥

Sesungguhnya, shalat akan mencegah perbuatan keji dan munkar. (QS. Al-’Ankabuut/29 : 45)

Sesungguhnya di dalam shalat terkandung tiga unsur penting: ikhlas, takut kepada Allah, dan zikir serta mengingat Allah.

Unsur ikhlas akan mengendalikan pelakunya untuk berbuat kebaikan. Sedangkan unsur takut kepada Allah akan menghalangi pelakunya dari perbuatan munkar. Adapun unsur zikir serta mengingat Allah akan menjadikannya selalu waspada untuk tidak terjerumus ke dalam kejahatan.

Shalat juga merupakan hubungan antara seorang hamba dengan Allah. Pelakunya akan merasa malu ketika menghadap Allah sedangkan ia membawa dosa-dosa besar serta perilaku-perilaku keji.[6]

Maka untuk menyucikan jiwa, cukuplah seseorang melaksanakan shalat dengan ikhlas, benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

4- Zakat

Zakat yang merupakan salah satu rukun Islam, juga ibadah yang membersihkan jiwa. Zakat ini akan dapat membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil, serta membersihkan diri dari dosa-dosa.[7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ التوبة: ١٠٣

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan (jiwa) mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah/9: 103)

Zakat fitri, shadaqah-shadaqah lain serta infak, baik wajib maupun sunat, semuanya juga merupakan ibadah yang membersihkan jiwa dan harta dari kotoran-kotaran dosa.

5- Demikian pula ibadah puasa, haji serta menyembelih hewan korbanpun adalah amaliah ibadah yang membersihkan jiwa.

Bahkan seluruh syi’ar yang disyari’atkan dalam Islam adalah amal ibadah yang berfungsi membersihkan jiwa menuju kebaikan, ketakwaan serta peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

Penutup

Berdasarkan pemaparan singkat di atas, dapat difahami bahwa pembersihan jiwa hanya dapat terwujud dengan memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara benar, mulai yang paling pokok hingga menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.

Barangsiapa yang menjalankan ketetapan-ketetapan Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia selalu membersihkan jiwanya. Dan barangsiapa yang enggan mengamalkan ajaran Islam atau mengamalkannya tetapi tidak berpedoman pada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia adalah orang yang mengotori jiwanya. Bahkan barangsiapa yang berusaha membersihkan dan menyucikan jiwa serta qalbunya, tetapi tidak berdasarkan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti ia justeru sedang mengotori jiwanya. Sebab syari’at Islam adalah syari’at yang sudah sempurna dan lengkap, tidak memerlukan penambahan, apalagi pengurangan.

Maka “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya“.(Asy-Syams: 9-10).

Ya Allah, bimbinglah kami menjadi orang-orang yang bersih jiwanya dan jadikanlah sebagai orang-orang yang beruntung. Wallahu Waliyyu at-Taufiq.

Penulis: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Artikel: www.UstadzFaiz.com

Catatan kaki:
[1] Al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus. Op.Cit. h.59 dst.

[2] Lihat Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Syaikh, Syarh Tsalatsah al-Ushul, I’dad: Fahd bin Nashir as-sulaiman, Riyadh, Daar ats-Tsurayya, cet. III, 1417 H/1997 M, hal. 39

[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz II, dan Tafsir Fathu al-Qadir juz II, QS. At-Taubah: 28

[4] Lihat Riyadhus-Shalihin, Daar Ihya’ at-Turats al-’Arabi & Maktabah al-Ghazali, Beirut, tanpa tahun, bab: Fadhlu al-Wudhu’, hal. 411 dst.

[5] An-Nawawi, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi. Op.Cit. III/127, no. hadits: 577.

[6] Lihat al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus. Op.Cit. h. 63-64.

[7] Al-Hilali, Salim bin ‘Id, Syaikh, Bahjatu an-Nazhirin Syarh Riyadh ash-Shalihin, KSA, Daar Ibni al-Jauzi, cet. V, J. Ula, 1421, juz II, hal. 346.

http://ustadzfaiz.com/?p=25

MENYUCIKAN JIWA, MEMBERSIHKAN QALBU (1)

Pendahuluan

Penyucian jiwa dan qalbu yang merupakan pangkal bagi lahirnya akhlak mulia, adalah unsur penting bagi berlangsungnya kekuatan serta kewibawaan suatu bangsa.[1] Dan itu merupakan salah satu tugas utama yang karenanya Allah ‘Azza wa Jalla mengutus nabiNya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.[2] Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, di antaranya:

لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ . آل عمران: ١٦٤

Sesungguhnya Allah telah member karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri; yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran/3 : 164)

Ayat ini menjelaskan, di antara tugas utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membersihkan jiwa manusia serta mengajarkan al-Qur’an dan hikmah. Yang dimaksud hikmah di sini adalah Sunnah Beliau sendiri n dan maksud-maksud serta rahasia-rahasia yang terkandung di balik syari’at.[3] Jadi isi al-Qur’an al-Karim, seluruhnya sudah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik lafaz, ma’na, kandungan serta rahasia-rahasianya. Begitu pula wahyu-wahyu Allah lainnya yang berupa Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, orang dikemudian hari tidak perlu mencari sendiri ma’na-ma’na rahasia di balik ayat al-Qur’an tersebut berdasarkan perasaan, logika atau gagasan pribadi. Yang perlu dilakukan adalah mencari ma’na-ma’nanya melalui riwayat-riwayat yang shahih dari Nabi atau dari para Sahabat Nabi, melalui penjelasan para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَفِى رِوَايَةٍ : صَالِحَ) اْلأَخْلاَقِ. أخرجه البخاري فى الأدب المفرد والحاكم وغيرهما

Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat lain : yang shaleh). Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam al-Hakim dll.[4]

Tujuan Pembersihan Jiwa

Tujuan pembersihan jiwa adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya, takwa hanya dapat terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa. Sementara, kebersihan jiwa juga tidak dapat terjadi tanpa takwa. Jadi keduanya saling terkait dan saling membutuhkan. Itulah mengapa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَاسَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا الشمس: ٧ – ١٠

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams/91 : 7-10)

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa seseorang dapat membersihkan jiwanya melalui ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلاَ تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى النجم: ٣٢

Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa. (QS. An-Najm/53: 32)

Serta firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَسَيُجَنَّبُهَا اْلأَتْقَى . الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى الليل: ١٧ – ١٨

Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya. (QS. Al-Lail/92: 17-18)

Kedua ayat ini menjelaskan bahwa pembersihan jiwa pada hakikatnya adalah ketakwaan kepada Allah.[5] Dan memang tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah.

Di sini perlu juga difahami dengan baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا. رواه مسلم

Ya Allah! Anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkan jiwa. Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya. HR. Muslim.[6]

Dengan qalbu serta jiwa yang bersih dan bertakwa, akan tercapailah maksud diciptakannya manusia. Yaitu hanya beribadah dan menyembah kepada Allah saja.

Allah berfirman:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ الذاريات: ٥٦

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu saja. (QS. Adz-Dzaariyaat/51 : 56)

-bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Artikel: www.UstadzFaiz.com

Catatan kaki:
[1] Al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus, KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal. 15

[2] Ibid. h. 21

[3] As-Sa’di, Abdur rahman bin Nashir, Syaikh, Taisir al-Karim ar-Rahman, QS. Ali Imran: 164.

[4] Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dll, lihat Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, bi takhrijat wa ta’liqat : Syaikh al-Albani, Daar ash-Shiddiq, Jubail, KSA, cet. II, 1421 H/2000 M, hal. 100-101, no. 273. Lihat pula Silsilah Shahihah, no. 45.

[5] Al-Hilaly, Salim bin ‘Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya’ Fi Tazkiyati an-Nufus. Op.Cit. h. 19-20

[6] An-Nawawi, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq: Khalil Ma’mun Syiha, Dar al-Ma’rifah, cet. III, 1417 H/1996 M, XVII/43, no. hadits: 6844.

http://ustadzfaiz.com/?p=21

Sabtu, 27 Maret 2010

SERTAKANLAH NAMAKU BERSAMAMU DALAM DOAMU

Ala Banafi’ bekerja di sebuah toko di pusat kota di Jeddah. Ketika terjadi bencana alam “Tsunami” akhir tahun 2004 di Aceh dan wilayah lainnya, akhi ‘Ala aktif mengikuti berita musibah tersebut dan merasakan prihatin dan sedih atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh. Beliau sempat memberikan sebuah artikel dari internet sebagai bahan masukan bagi saya saat menyusun buku “Hikmah dibalik Musibah”, semoga Allah memberikan ganjaran di dunia dan akhirat atas kebaikannya tersebut.

Pernah terjadi suatu peristiwa sekitar 15 tahun lalu yang sangat berkesan bagi ‘Ala, beberapa waktu setelah ayahnya wafat, turunlah hujan dengan derasnya di kota Makkah tempat mereka tinggal, sampai-sampai air hujan mulai masuk ke dalam rumah membuat penghuni rumah menjadi panik. Adik perempuan ‘Ala yang masih kecil tanpa sadar berteriak dan memanggil ayahnya, “Abi!, Abi!, tolong kami!”. Adiknya secara refleks tanpa sadar memanggil ayahnya yang sangat ia cintai untuk menolongnya, padahal ayahnya telah wafat, semoga Allah merahmatinya.

‘Ala mempunyai adik laki-laki yang cacat, usianya 19 tahun. Sejak lahir ia hanya di tempat tidur. Ia menceritakan bagaimana kesabaran ibunya yang sampai sekarang tetap telaten merawat adiknya. Ala berkata bahwa jalan menuju sorga itu bermacam-macam, dan mungkin jalan ibunya menuju sorga adalah kesabarannya, yang pertama ditinggal wafat suaminya ketika anak-anaknya masih kecil dan kedua kesabarannya merawat anaknya yang cacat. Semoga harapan dan doa ‘Ala dikabulkan oleh Allah.

Saya teringat dengan sebuah pesan yang disampaikan seorang penyandang cacat bisu tuli, ia bernama Nail Munir berusia 30 tahun, warga Negara Saudi Arabia keturunan Banten Indonesia.. Beliau datang mencari saya ke kantor Islamic Center Di Jeddah pada awal bulan safar 1430 H , kami berkomunikasi dengan tulisan sampai menghabiskan beberapa lembar kertas bolak balik. Beliau ingin konsultasi tentang masalah pribadinya. Disela-sela komunikasi kami ada beberapa hal yang membuat saya kagum dan terharu darinya. Yang membuat saya kagum, akhi Nail meskipun cacat bisu dan tuli, beliau tidak minder dan tetap percaya diri, beliau pandai mengemudikan mobilnya sendiri. Hal itu saya ketahui ketika kami pergi ke rumah makan untuk makan malam bersamanya. Beliau meskipun cacat bisu dan tuli tidak menjadi beban bagi orang lain, akhi Nail bekerja di bagian tata usaha memegang komputer di sebuah sekolah luar biasa di kota Jeddah. Akhi Nail meskipun cacat bisu dan tuli tidak menghalanginya untuk tetap bermasyarakat dan berkomunikasi dengan manusia, beliau pandai berkomunikasi dengan bahasa isyarat kepada sesamanya dan berkomunikasi dengan bahasa tulisan dan bahasa isyarat kepada orang-orang yang normal yang beliau jumpai di toko, rumah makan, kantor Islamic center, pom bensin dan tempat-tempat umum lainnya, ia tidak menyendiri dan menjauhi manusia. Beliau meskipun cacat bisu dan tuli tidak menghalanginya untuk belajar dan memperdalam agama Islam lewat internet atau vcd/ dvd dimana ustadznya Syaikh Abdurrahman Jumáh dan selainnya menyampaikan berbagai materi pelajaran seperti tafsir Al Quran, Sirah Nabawiyyah, Sejarah Islam, Aqidah, Fiqih dengan bahasa isyarat. Jika akhi Nail ingin bertanya tentang masalah keislaman maka beliau mengirim sms kepada gurunya lalu gurunya menjawab lewat sms juga. Hal yang membuat saya terharu ketika akhi Nail meminta secarik kertas dan menasihati saya melalui tulisannya berbahasa Arab,
أنت لازم تتعلم لغة الإشارة

“Kamu harus belajar bahasa isyarat”

Ketika saya tanyakan mengapa? Beliau menjawab,

“Kasihan saudara-saudara kita di Indonesia yang tertimpa musibah cacat bisu dan tuli, bagaimana mereka bisa belajar Islam dan mengerti tauhid jika tidak ada yang mengajari dan membimbing mereka?”

Saya terharu membaca tulisannya yang menunjukkan kepekaan dan kehalusan perasaannya…

Maka dalam kesempatan ini saya menukilkan pesan akhi Nail ini kepada para aktivis dakwah dan mubaligh serta para penuntut ilmu di Indonesia, mudah-mudahan ada diantara kita yang memiliki kesempatan waktu dan mendapatkan taufik dari Allah sehingga dapat belajar bahasa isyarat dan mampu untuk berdakwah (secara langsung atau sebagai penerjemah) kepada saudara-saudara kita yang cacat bisu dan tuli.

Diantara sms yang dikirim oleh akhi ‘Ala kepada saya berisikan permohonan jika saya berdoa memohon jannah agar menyertakan namanya, juga mengingatkan kita untuk banyak melakukan shalat dan sujud kepada Allah sebagai kunci kebahagiaan, ia juga mendoakan untuk saya. Isi sms nya:

Ketika engkau memohon surga kepada Allah

Sertailah namaku bersama doamu

Karena sesungguhnya saya menginginkan

berdampingan denganmu di surga.

Ingatlah bahwa kunci kebahagiaan adalah

shalat dan sujud dihadapan Allah

Semoga Allah menjadikanmu

Sebagai golongan orang-orang yang berbahagia

Semoga Allah melindungimu dan keluargamu semuanya

dari segala bala bencana,

amin”

—— (Dari buku “Surat-Surat Cinta” hal 62-66, Oleh: Fariq Gasim Anuz, Penerbit: DarusSunnah Jakarta, Cetakan kedua, January 2010)

Antara Karunia dan Kesempatan Bermaksiat

Sejenak, penulis terkadang merenungkan, betapa limpahan karunia Allah sudah demikian banyak terhadap diri kita, terlebih-lebih di era modern sekarang ini. Segala kemudahan, kecepatan, ketepatan dan keserasian memikat, menjadi fasilitas yang tersedia nyaris di setiap sector kehidupan. Seringkali hal itu membuat kita malu, dan menimbulkan keinginan untuk rela menjadi sedikit kuper dan gagap teknologi. Perlu resanya memiliki sedikit malu seperti itu, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Rasa malu adalah seluruh kebajikan”[1]

Loncatan teknologi di berbagai bidang, hasil kerja keras dan keuletan umat manusia, plus kecerdasan manusia itu sendiri sebagai anugerah utama dari Allah, setahap demi setahap, memungkinkan terciptanya sekian fasilitas yang ada untuk mereka nikmati bersama. Semua itu sejalan dengan penegasan Allah dalam firman-Nya (yang artinya),

“Allahlah yang telah menciptakan untuk diri kalian segala yang ada di muka bumi ini.” (Al-Baqarah: 29)

Sekian banyak karunia dan sekian banyak pula yang sudah dilahap habis dan dinikmati oleh manusia. Hal itu seyogyanya mendesak mereka untuk membuat pernyataan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Yang Maha Pencipta. Di saat kucuran karunia sedemikian derasnya, kurang bersyukur saja sudah bisa menjadi dosa yang sulit diampuni. Bagaimana pula bila sekian karunia dan fasilitas itu justru dijadikan ajang bermaksiat? Sudah demikian parahkah kebusukan jiwa kita, sehingga semakin bermandi karunia, semakin deras pula keringat kita bercucuran menggeluti maksiat. Munculnya karunia baru, bagi kita seolah-olah menjadi kesempatan baru berbuat maksiat. Beragam fasilitas, bagi kita adalah keragaman cara dalam mendulang maksiat.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki kuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Asy-Syura: 20)

Allah juga berfirman (yang berfirman),

“Barangsiapamenghendaki kehidupan yang segera, maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki kemudian Kami tentukan baginya naar Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra: 18-19)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 18-19)

Bila terminal penantian ke alam bahagia bagi kita adalah dunia ini, maka maksiat itu adalah salah satu jatah keduniaan yang diberikan secara instan untuk kita. Karena, betapa kenikmatan maksiat, seberapa pun lekasnya berakhir, dan seberapa pun beratnya akibat yang harus dipikul, tetaplah diincar oleh para penggilan dunia. Sehingga dunia ini tidak pernah kekurangan maling, perampok, koruptor, manipulator dan sejenisnya. Karena peminat kehidupan akhirat dalam arti sejatinya, hanyalah segelintir dari sekian banyak manusia yang hidup di dunia ini.

Catatan kaki:

[1] Lafal ini dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (37) (61) dalam kitab Al-Iman. Dikeluarkan juga oleh Al-Bukhari dengan lafal: “Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan belaka.” (X: 537) dalam kitab Al-Adab, bab: “Rasa Malu.” Keduanya dari Imraan bin Hushain radhiallahu ‘anhu.

Link: http://abuumar.com/renungan/antara-karunia-dan-kesempatan-bermaksiat/

Jumat, 26 Maret 2010

MARILAH KITA MENGINGAT KEMATIAN

Sesungguhnya kematian merupakan hakekat yang menakutkan, akan mendatangi seluruh orang yang hidup. Semuanya tidak kuasa menolaknya, tidak ada seorangpun di sekitarnya yang mampu menahannya. Maut merupakan ketetapan Alloh, seandainya ada seseorang selamat dari maut, niscaya manusia yang paling mulia yang akan selamat. Namun maut merupakan SunnahNya pada seluruh makhlukNya. Alloh Ta’ala berfirman:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). (QS. 39:30)
Tiada manusia kekal di dunia ini.
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ .كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? (QS. 21:34) Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. 21:35)
LARI DARI KEMATIAN?
Kekuasaan Alloh meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan adanya kematian pada manusia, maka bagaimanapun manusia menghindar dari kematian, kematian itu tetap akan menyusulnya. Alloh Ta’ala berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. 4:78).
Dan Alloh menantang kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka tidak dikuasai oleh Alloh, dengan mengembalikan nyawa orang yang sekarat, jika memang mereka benar!
فَلَوْ لآ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ. وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ. وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ. فَلَوْ لآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ. تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar. (QS. 56:83-87)
AWAS KEMATIAN MENDADAK!
Kita berada di akhir zaman, banyak terjadi kematian mendadak, memang itu merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ …أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَة
Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah…munculnya kematian mendadak. (HR. Thobaroni; Dhiya’ Al-Maqdisi; dihasankan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shohih Al-Jami, no: 5775)
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut di zaman ini benar-benar sudah nyata. Kita lihat seseorang yang sehat, kemudian mati tiba-tiba, orang-orang sekarang menyebutnya dengan “serangan jantung”! Maka orang yang berakal hendaklah memperhatikan dirinya, segera kembali dan bertaubat kepada Penguasanya, sebelum kedatangan kematian mendadak yang tidak dia sangka!.
ANJURAN MENGINGAT MAUT
Banyak hadits-hadits yang mengingatkan tentang maut, agar manusia selalu ingat bahwa hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Dan agar dia bersiap-siap dengan perbekalan yang dia butuhkan untuk perjalanannya yang panjang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan: yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu. (HR. Ath-Thobaroni dan Al-Hakim Shahih Al-Jami’ush Shaghir: no. 1222; Shohih At-Targhib, no: 3333)
Syumaith bin ‘Ajlan berkata:
مَنْ جَعَلَ الْمَوْتَ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, لَمْ يُبَالِ بِضَيْقِ الدُّنْيَا وَلاَ بِسَعَتِهَا
“Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan dunia atau keluasannya”. (Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal: 483, tahqiq: Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi)
Quss bin Sa’idah Al-Ibaadi, salah seorang hunafaa’, melantunkan sya’ir:
Pada orang-orang dahulu yang telah pergi (mati),
dari umat-umat (yang telah tiada) terdapat bukti-bukti yang nyata
Ketika aku melihat tempat-tempat yang dituju,
bagi kematian yang tidak ada sumber-sumbernya,
Aku melihat kaumku pergi menuju kematian,
orang-orang besar dan anak-anak kecil,
Akupun yakin, bahwa aku pasti akan pergi juga, ke mana kaumku telah pergi.
(Dinukil dari Majalah Al-Asholah, hlm: 74, 15-Robi’uts Tsani-1413 H)
Orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan iman yang shohih (benar), tauhid yang kholish (murni), amal yang sholih (sesuai dengan tuntunan), dengan landasan niat yang ikhlas, itulah orang-orang yang paling berakal!
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Aku bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu seorang laki-laki Anshor datang kepada beliau, kemudian mengucapkan salam kepada belaiu, lalu dia berkata: “Wahai Rosululloh, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka”. Dia berkata lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?”. Beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik”. (HR. Ibnu Majah, no: 4259. Hadits Hasan; Lihat Ash-Shohihah, no: 1384)
Marilah kita renungkan sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali, satu akan tetap. Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap. (HR. Bukhori; Muslim; Tirmidzi; Nasai)
PENYESALAN ORANG KAFIR DI SAAT KEMATIAN
` Janganlah seseorang menolak keimanan dan menyepelekan amal sholih, karena suatu saat pasti dia akan menyesal. Alloh Ta’ala berfirman:
حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:”Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan. (QS. 23: 99-100)
SEGERA BERAMAL SEBELUM DATANG KEMATIAN
Janganlah seseorang selalu mengundurkan amal sholih karena kesibukan duniawi, karena selama masih hidup, manusia tidak akan lepas dari kesibukan! Orang yang berakal akan mengutamakanlah urusan akhirot yang pasti datang, dan mengalahkan urusan dunia yang pasti ditinggalkan.
Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {9} وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْ لآ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ {10} وَلَن يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa melakukan demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiqun: 9) Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:”Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al-Munafiqun: 10) Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun: 11)
PENUTUP
Hamid Al-Qoishori berkata:
“Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya sorga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! Maka terhadap apa kamu bergembira?! Kemungkinan apakah yang kamu nantikan?! kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Wahai saudara-saudaraku! Berjalanlah menghadap Penguasamu (Alloh) dengan perjalanan yang bagus”. (Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal: 483, tahqiq: Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi)
Inilah sedikit tentang dzikrul maut semoga bermanfaat. Al-hamdulillah.

Penulis: Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Link: http://ustadzmuslim.com/?p=6